Pencarian

Shopping cart

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles

Persib Bandung & Evolusi Sistemik Menuju Hattrick Juara

✅ Link berhasil disalin!

Sebagai Bobotoh, sulit rasanya menyembunyikan rasa bangga melihat performa Persib Bandung di BRI Super League 2025/2026. Hingga pekan ke-20 per 10 Februari 2026, Maung Bandung kokoh di puncak klasemen dengan 47 poin dari 20 laga, dengan 15 menang, 2 seri, dan hanya 3 kalah. Produktivitas gol memang tidak meledak, baru 31 gol, tetapi pertahanannya luar biasa rapat dengan hanya 11 kali kebobolan.

Yang menarik, Persib musim ini terasa berbeda. Mereka bukan lagi tim yang hidup dari keajaiban individu seperti musim-musim saat meraih back-to-back champion. Kini, Persib tampil lebih kolektif. Distribusi gol merata dari 12 pemain berbeda. Artinya, ancaman datang dari banyak arah, tidak selalu bergantung pada nama beken seperti Ciro Alves, Tyrone Del Pino atau David da Silva.

Fondasi permainan juga terlihat lebih disiplin. Clean sheet sudah 12 kali, terbanyak di liga, dengan Teja Paku Alam jadi tembok terakhir yang sulit ditembus. Dilansir dari FootyStats, rata-rata penguasaan bola 58 persen, expected goals 1,55 per laga, dan persentase nirbobol mencapai 58 persen secara keseluruhan, bahkan 89 persen di kandang. Ini bukan sekadar perubahan taktik, tapi tanda kedewasaan bermain.

Sebagai pengamat yang senang mengaitkan sepak bola dengan teori sosial, saya melihat transformasi ini menarik jika dibaca lewat perspektif Sistem Niklas Luhmann, khususnya lewat konsep seleksi komunikasi, evolusi sistem, dan differensiasi fungsional.

Seleksi komunikasi di lapangan

Dalam pandangan Luhmann, sistem sosial tidak berdiri dari individu, di sini kita tidak lagi membicarakan aktor atau pemain dilapangan, melainkan dari rangkaian komunikasi. Sistem selalu menyeleksi mana informasi yang relevan dan mana yang harus dibuang. Jika ditarik ke permainan Persib sebagai sistem dalam olahraga sepak bola, “komunikasi”  terjadi lewat passing, pressing, positioning, defending, attacking dan transition, hingga pengambilan keputusan.

Di tangan sang pelatih Bojan Hodak, Persib musim ini seperti mesin komunikasi yang rapi. Build-up dari belakang, pressing kolektif, sampai gameplay berjalan terstruktur. Dribel individu masih ada, tapi bukan lagi menjadi pusat permainan atau andalan Persib saat ini.

Contohnya terlihat saat menghadapi Persija, Persib tidak selalu tampil spektakuler dengan permainan individu. Bahkan, Bobotoh di media sosial cenderung menganggapnya Persib bermain dengan cara pragmatis, tetapi tetap efektif. Sistem memilih opsi paling aman dan efisien, yang paling terlihat jelas adalah bagaimana Persib bermain lewat man to man marking yang jarang sekali diterapkan oleh tim kebanggaan Jawa Barat ini, atau lewat penguasaan bola yang sabar sistem menerapkan permainan build up dari penjaga gawang secara terstruktur nan rapi hingga menembus pertahanan lawan. Inilah seleksi komunikasi: memilih tindakan yang menjaga stabilitas sistem.

Dampaknya terasa, Persib tidak mudah goyah ketika satu pemain cedera atau tampil di bawah standar. Sistemnya tetap bekerja. Rekor kandang jadi bukti, dengan hasil 10 kemenangan dari 10 laga, hanya kebobolan satu gol sepanjang musim di rumah sendiri.

Evolusi: dari individu ke kolektif

Luhmann memandang evolusi sosial lewat tiga tahap: variasi, seleksi, dan retensi. Persib musim ini adalah contoh evolusi itu.

Variasi muncul dari perubahan pendekatan. Dulu, lebih mengandalkan counter attack cepat dan aksi individu, dimana aktornya adalah Ciro Alves dengan Target Man David da Silva. Sekarang permainan lebih kolektif, berbasis penguasaan bola. Lingkungan kompetisi menyeleksi pendekatan mana yang paling bertahan. Hasilnya, sistem baru yang lebih adaptif.

Kehilangan atau menurunnya performa satu pemain tidak lagi fatal. Sistem sudah menyimpan pola alternatif dengan kedalaman skuad. Retensinya terlihat dari konsistensi, possession stabil, expected goal terjaga, bahkan  struktur bertahan sangat solid. Sistem ini juga berevolusi dalam mengarungi ACL2 yang berjalan apik hingga menembus babak 16 besar.

Banyak Bobotoh di media sosial bahkan berkomentar, “Persib musim ini susah cari MOTM, soalnya semua rata bagus.” Kalimat sederhana, tapi menggambarkan evolusi yang berhasil dari Persib sebagai sebuah sistem.

Dukungan publik juga sebagai lingkungan dari Persib ikut berevolusi. Laga kandang melawan Persija 11 Januari 2026 dihadiri 29.616 penonton. Total 243.630 Bobotoh hadir dalam 10 laga kandang, rata-rata 24 ribu lebih per pertandingan. Dukungan ini jadi energi sosial yang ikut dipertahankan sistem.

Differensiasi fungsional: Persib sebagai sistem otonom

Konsep Luhmann berikutnya adalah differensiasi fungsional. Masyarakat modern terdiri dari subsistem otonom dengan fungsi masing-masing. Sepak bola punya kode biner sendiri yaitu menang atau kalah.

Persib sebagai bagian dari subsistem olahraga tidak berdiri sendiri. Ia terhubung yang dalam istilah Luhmann disebut structural coupling dengan ekonomi (sponsor), politik (regulasi PSSI), dan budaya (Bobotoh). Namun di saat yang sama, ia harus menjaga otonominya, yaitu fokus pada performa.

Kematangan ini terlihat ketika muncul isu non-teknis, misalnya tuduhan pelanggaran kuota pemain asing yang ramai di X baru-baru ini menjelang penutupan transfer window. Sejumlah akun menuding Persib melewati batas waktu pendaftaran pemain asingnya. Namun narasi tandingan Bobotoh juga kuat, yang paling santer pendaftaran pemain asing terakhir yang didatangkan yaitu Sergio Castel.

Dalam kacamata Luhmann, polemik ini adalah gangguan dari subsistem lain, terutama regulasi dan politik olahraga. Tetapi Persib sebagai sistem tetap berjalan dengan logika utamanya, yaitu performa pertandingan. Respons Bobotoh juga menarik. Alih-alih larut dalam polemik, banyak yang memilih memperkuat dukungan.

Di sini terlihat differensiasi bekerja. Sistem olahraga menjaga fokusnya, sementara gangguan eksternal tidak sampai merusak stabilitas sistem internal di tubuh Persib.

Menuju hattrick juara?

Melihat keseluruhan proses, Persib hari ini bukan lagi sekadar tim berisi pemain hebat. Ia sudah menyerupai sistem hidup yang menyeleksi komunikasi paling efektif, berevolusi dari pengalaman masa lalu, dan berdiferensiasi dari gangguan eksternal.

Bagi saya sebagai Bobotoh, inilah fondasi menuju hattrick juara. Bukan mimpi kosong, tapi hasil dari proses sistemik yang matang.

Sepak bola modern memang tidak cukup hanya soal bintang. Ia butuh struktur, adaptasi, dan ketahanan sistem. Di musim ini, Persib menunjukkan bahwa semua persyaratan itu ada.

Tugas Bobotoh sebagai lingkungan sistem sekarang sederhana: menjaga solidaritas dukungan. Karena ketika sistem di lapangan sudah solid, energi dari tribun dan ruang digital bisa jadi penguat yang menentukan.

Maung Bandung sedang berevolusi. Dan jika konsistensi ini terjaga, sejarah besar itu bukan tidak mungkin segera jadi nyata. (Siap-Siap Konvoi Lagi)

Penulis:  Oki Ais | Editor: Zahran Kamal Muharam

Artikel Sebelumnya
Pelatih Spesialis Turnamen, Welcome Coach Bojan!
Artikel Selanjutnya
Passport Persib Resmi Diluncurkan Ulang, Hadirkan Pengalaman Emosional Bobotoh yang Terintegrasi

Artikel Terkait: